5 Pola Bisnis Online Berkelimpahan

5 Pola Bisnis Online Berkelimpahan

Ini adalah catatan dari webinar “5 Hal Yang Harus Anda Lakukan Jika Omset Bisnis Online Anda Belum Mencapai 100 Juta” bersama mas Fikry Fatullah dari Kirim.Email, yang kemudian disarikan menjadi 5 Pola Bisnis Online Berkelimpahan

Mungkin ada yang belum kenal sama mas Fikry Fatullah yang pertama kali saya kenal lewat Radio Kajian Bisnis Online-nya. Beliau pernah menjadi Juragan Pemasaran Yukbisnis.com dan saat ini sedang fokus di Kirim.Email, layanan email marketing untuk pebisnis online di Indonesia.

Mas Fikry ini menurut saya spesial, karena gak cuma pengalamannya yang banyak di bisnis online tapi juga pengetahuannya luas (bisa dicek dari bacaan buku2-nya) dan pemahaman Islam-nya baik. Kalau tidak percaya, dengarkan saja Radio KBO yang sampai tulisan ini dibuat sudah sampai episode 70.

Oke, langsung saja ke “5 Pola Bisnis Online yang Berkelimpahan.”

Sebagai catatan, berkelimpahan disini maksudnya hasil dari bisnis online bukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (baca: berkecukupan), tapi juga sudah bisa untuk hal-hal lain yang bikin hidup lebih nyaman (sedekah lebih banyak dll).

Meskipun standar kebutuhan hidup tiap orang beda-beda, kalau dinominalkan “berkelimpahan” disini berarti omset diatas Rp 100juta. Kalau Anda sudah mencapai level itu, silakan tinggalkan tulisan ini.

Ini dia.

1. FOKUS!

Be like a postage stamp-stick to one thing until you get there.

Ada sebuah peribahasa Rusia yang mengatakan: “jika kita mengejar dua kelinci, maka kita tidak akan menangkap satu kelincipun.” Penyakit jama’ah para pebisnis pemula ya ini, gak fokus. Termasuk saya. Begitu melirik rumput tetangga lebih hijau, jadi pengen ikutan makan rumput. #eh

Satu fakta yang menarik, bahwa 6 dari 10 orang terkaya di dunia (versi Forbes 400) fokus hanya di satu bisnis. Nah dari 6 orang tersebut, yang paling muda usia bisnisnya adalah Mark Zuckerberg yang ‘baru’ 12 tahun mendirikan Facebook. Jadi kalau baru 2-3 bulan sudah mulai merasa bisnisnya gak prospektif, ya malu sih ya harusnya. #ambilkaca

Untuk membantu kita menemukan fokus, coba jawab pertanyaan ini:

Apa satu hal yang akan Anda kerjakan 10 tahun mendatang?

2. Menarik bagi pasar.

Saat ini semua bisnis adalah ‘bisnis media’. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengumpulkan orang dari segmen yang sama, di tempat yang sama, pada waktu yang sama, inilah yang dimaksud dengan media.

Maka, kuasailah minimal satu media, apakah itu Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, atau yang lainnya. Yang dari media tersebut kita bisa menyebarkan konten yang menarik pengunjung/calon pembeli/leads untuk kemudian dikonversi menjadi pembeli.
Konten bisa berupa tulisan, gambar, video, audio, atau apapun yang kita sumbangkan ke Internet.

Dan ingat, “people don’t buy the product, they buy the story behind the product.” Maka kemampuan yang harus dimiliki pebisnis selain menjual, adalah bercerita (story telling). Cerita adalah jalan pintas “mengakses” emosi. Itulah kenapa produk-produk yang laris di pasaran, bukan yang menyentuh logika, melainkan yang menyolek emosi.

Buat mbak-mbak yang bisnis hijab, coba renungkan ini dan jawab:

Anda sedang berjualan kerudung, atau melakukan upaya agar para Muslimah menjadi lebih baik?

3. Customer-Centric.

Ingat, customer-centric. Bukan product-centric. Fokuslah ke konsumen yang Anda layani, bukan kepada produk yang Anda tawarkan.

Jika fokus anda MELAYANI target pasar, anda bisa menjual lebih banyak produk ke target pasar yang anda layani.

Satu bisnis semestinya didesain untuk melayani satu segmen pasar yang spesifik. Hal ini akan berpengaruh kepada “cara berbicara” (baca: copywriting) yang merupakan fokus untuk melayani target pasar.

Coba berhenti sejenak, lalu jawab ini bersama tim bisnis Anda:

Siapa yang Anda (dan bisnis Anda) layani saat ini?

4. Aggressive Reinvestment.

Panganan opo iki? :p

Definisi singkatnya adalah investasikan keuntungan Anda secara agresif kembali pada bisnis Anda. Kurangi dulu keuntungan untuk kebutuhan hidup pada taraf CUKUP, lalu sisanya langsung kembalikan ke bisnis. Jangan biarkan bisnis Anda mendapat ‘sisa’ dari gaya hidup Anda. #makjleb

Tapi hati-hati! Sebelum omset Anda mencapai Rp 100 juta, jangan investasikan pada hal-hal yang tidak mampu dilihat konsumen. Melainkan, coba putar kembali profit bisnis ke beberapa hal berikut:

  • belanja iklan (Facebook Ads, Google Adwords, endorser, dll)
  • website yang SEO-friendly
  • layanan landing page
  • hp android biasa untuk CS (agar pelayanan lebih cepat)
  • aplikasi/tools yg akan membantu mendatangkan pembeli online
  • layanan email marketing
  • banner desain untuk iklan
  • peralatan foto/video secukupnya

Sebelum menginvestasikan kembali keuntungan bisnis Anda, jawab dulu:

Standar hidup cukupnya Anda berapa?

5. Menguasai TRAFFIC.

Bisnis online sama seperti ‘anak’ yang perlu diberi makan  setiap hari. Dan makanan bagi bisnis online adalah: TRAFFIC. Bukan sekedar kunjungan, tapi kunjungan yang berkualitas a.k.a tertarget.

Setahu Saya ada tiga jenis traffic pada bisnis online:

  1. Traffic we don’t control; kunjungan dari media sosial, blog, SEO dll.
  2. Traffic we control; kunjungan dari Facebook Ads, Google Adwords, dan paid advertising lain.
  3. Traffic we own; kunjungan dari aset yang kita miliki yang bisa berupa email database atau (Facebook) pixel.

Jangan menggantungkan bisnis Anda di “rumah” orang lain. Bangun ASET Anda mulai sekarang.

Masih segar dalam ingatan Saya, tentang Bang Motty yang kehilangan akun Facebook dalam semalam karena katanya melanggar aturan dari Facebook. Jadi memang, selain harus memilliki website sendiri, aset berupa database email atau (Facebook) pixel pengunjung harus jadi prioritas para pebisnis online saat ini.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang email marketing, langsung aja meluncur ke Kirim.Email (bukan link affiliate :p).

===

Kalau ada yang ikutan webinarnya dan merasa ada yang salah/kurang dari catatan Saya ini, silakan komentar di bagian bawah tulisan ini ya. 🙂