Minimum Viable Product untuk Website Bisnis

Kebanyakan pebisnis dan pelaku UKM belum memiliki website bisnis.
Ketika mulai menyadari pentingnya website untuk bisnis, masalah selanjutnya muncul: apa saja fitur yang harus dipasang?

Mayoritas pebisnis ingin websitenya diisi dengan banyak fitur yang akhirnya tidak digunakan.
Disinilah pentingnya menentukan versi minimal dari sebuah website bisnis saat pertama kali akan diluncurkan.

Minimum Viable Product

MVP atau Minimum Viable Product kalau di-bahasa-Indonesia-kan kurang lebih artinya: produk minimal yang bisa digunakan.

Istilah ini mulai populer sejak terbitnya buku Lean Startup yang ditulis Eric Ries di tahun 2011.

Singkatnya, MVP adalah versi paling minimal dari sebuah produk atau layanan.

Kalau kita melihat Instagram sekarang begitu canggih fiturnya, dulu waktu awal-awal dirilis MVP-nya Instagram ya cuma: aplikasi photo-sharing untuk pengguna iPhone dan iPod Touch.
Belum ada stories, akun bisnis, dan filter yang cantik-cantik.

Jadi saat awal meluncurkan produk atau bisnis, jangan terlalu banyak membenamkan fitur. Sebab:

  • customer akan bingung karena kurangnya fokus.
  • fitur tambahan yang terlalu banyak akan mengganggu fitur utama.
  • bisa jadi customer tidak menginginkan semua fitur atau bahkan tidak membutuhkan produk Anda. (seperti Youtube yang awalnya adalah situs kencan berbasis video).
membuat minimum viable product - muvaroka
Ilustrasi urutan membangun Minimum Viable Product

MVP pada Website Bisnis

Prinsip MVP juga berlaku pada website untuk bisnis. Ini yang coba saya terapkan di website ini.

Di kelas Tips Website Efektif dari Gapura Digital, diajarkan materi apa saja hal-hal yang harus ada agar website efektif.

Tapi saya selalu katakan kepada peserta:

  1. Anda harus tes & ukur sendiri di website Anda.
  2. Anda tidak membutuhkan semua fitur ada di hari pertama website Anda diluncurkan.

Jadi kalau sekarang Anda baru mau membuat sebuah website untuk bisnis Anda, maka Anda hanya perlu memikirkan tiga hal saja:

1. Halaman utama

Halaman utama atau biasa disebut Home (beranda) adalah halaman yang muncul saat domain utama dari website dibuka. (misal: muvaroka.com).

Saat website bisnis Anda sudah jadi dan Anda mulai mempromosikan ke teman, saudara atau bahkan customer lama, apa halaman yang harusnya mereka lihat sehingga mereka tahu website Anda tentang apa.

Misal Anda berjualan baju, halaman utamanya ya katalog produk.

Kalau Anda penyedia jasa, maka halaman perkenalan dan penjelasan layanan apa yang Anda jual adalah yang utama.

Atau kalau ingin lebih mudah lagi, halaman blog saja sebenarnya sudah cukup.
Anda bisa mengisi dengan tulisan-tulisan lama yang pernah diposting di media sosial.
Itu saya terapkan waktu website ini pertama kali diluncurkan.

2. Integrasi dengan sistem analytics

Sesederhana apapun website Anda, harus bisa diintegrasikan dengan tool untuk melacak siapa pengunjung website Anda.
Tool analytics yang paling populer (dan gratis) adalah Google Analytics yang dikoneksikan dengan Google Search Console untuk mengoptimasi website di mesin pencari.

Di website ini saya juga mengkoneksikan dengan Facebook Pixel (untuk keperluan Facebook Ads) dan Google Tag Manager.

3. Bagaimana pengunjung website menghubungi Anda

Ada dua cara yang umum digunakan oleh pengunjung website untuk menghubungi pemilik website: halaman Contact dan fitur Live chat.

Berdasarkan pengalaman saya, live chat lebih efektif daripada halaman Contact. Apalagi kalau target market dari website Anda adalah orang Indonesia.

Ada beberapa penyedia layanan live chat di website diantaranya yang populer: tawk.to, Intercom, Olark, dan Zopim. Ada yang gratis ada juga yang berbayar.

Tapi kekurangannya, admin website harus login ke web atau aplikasi dari penyedia layanan untuk membalas pesan yang masuk. Jadinya agak ribet.

Saat tulisan ini dibuat, untuk website ini saya memilih untuk menggunakan (Facebook) Messenger yang sudah biasa saya gunakan sehari-hari dan bisa membalas pesan dari HP.

Kenapa bukan Whatsapp?

Kekurangan Whatsapp adalah tidak bisa melakukan chat langsung di website, jadi obrolan tetap terjadi di aplikasi atau web Whatsapp.

Ada beberapa layanan integrasi Messenger dengan website, diantaranya yang saya tahu: Manychat, Chatfuel, dan Botsify. Ketiganya produk dari luar negeri yang tentu saja menggunakan bahasa Inggris.

Ada layanan serupa buatan lokal yang menggunakan bahasa Indonesia, namanya Socilead Messenger. Meskipun berbayar, tapi menurut saya harganya terlalu murah dengan fitur-fitur tambahan yang istimewa, seperti:

  • membalas komentar calon customer di Facebook page secara otomatis
  • mengirimkan pesan ke inbox Messenger calon customer yang komentar di Facebook page secara otomatis
  • menyembunyikan komentar calon customer di iklan Facebook, sehingga kompetitor Anda tidak bisa membajak
  • …dan yang pasti tutorial, webinar, dan dukungan penuh dengan bahasa Indonesia.

Pelajari Socilead Messenger di sini.→

 

Tiga fitur minimal pada website Muvaroka.com tampilan pada 23 Februari 2018

Penutup

Tiga hal di atas adalah Minimum Viable Product dari sebuah website bisnis, yang saya terapkan di MUVAROKA.COM dan bisa juga Anda tiru di website bisnis Anda.

Kalau Anda butuh bantuan terkait website bisnis, Anda bisa konsultasikan dengan saya. Gratis!

Anda bisa kirim pertanyaan ke email saya: bijak[at]muvaroka[dot]com atau klik logo Messenger di kanan bawah website ini (jangan lupa login Facebook).

Semoga bermanfaat.

 

Bijak Putranto